Wednesday, 18 June 2014

3.4 Pertumbuhan Ekonomi Bertahap

Teori ini melihat pembangunan ekonomi sebagai proses perubahan yang bersifat garis lurus dan bertahap. Menurut Rostow, suatu perekonomian akan berkembang menjadi perekonomian maju dalam lima tahap, yaitu sebagai berikut.

1) Tahap Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)

Masyarakat tradisional masih terikat oleh keadaan adat-istiadat dan sistem masyarakatnya masih primitif serta masih dipengaruhi oleh nilai-nilai tidak rasional.

2) Tahap Pra-Lepas Landas (Precondition for Take Off )

Tahap pra-lepas landas adalah tahap perekonomian mampu tumbuh dan berkembang dengan kekuatan mandiri. Pada tahap ini, dalam masyarakat lahir kelas menengah yang menguasai perdagangan. Selain itu, muncul aktivitas sosial di bidang transportasi dan modernisasi pertanian. Dalam keadaan seperti ini, tahap tinggal landas mulai dipersiapkan.

3) Tahap Tinggal Landas (Take Off )

Keadaan masyarakat pada tahap tinggal landas ditandai oleh meningkatnya investasi dan pendapatan riil masyarakat. Bidang-bidang industri mengalami perubahan yang mendasar, antara lain meluasnya peranan sektor industri unggul.

4) Tahap Kematangan (The Drive Maturity)

Pada tahap ini keadaan masyarakat telah mengenal penggunaan teknologi tinggi. Sektor-sektor industri mempengaruhi sektor-sektor lainnya. Manajemen profesional telah mulai berkembang dengan cepat.

5) Tahap Konsumsi Tinggi (The Age of High Mass Consumption)

Keadaan masyarakat pada tahap ini telah berkembang secara mandiri. Keadaan teknologi dalam masyarakat konsumsi tinggi dapat dikatakan sudah matang.

Refrensi :

3.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Aliran Teori Ekonomi Neoklasik

Robert Solow

Robert Solow adalah ahli ekonomi yang memenangkan hadiah nobel pada tahun 1987. Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi akan tercapai jika ada pertumbuhan output. Pertumbuhan output terjadi jika dua faktor input, yakni modal dan tenaga kerja dikombinasikan, sedangkan faktor teknologi dianggap konstan (tidak berubah). Adapun yang tergolong sebagai modal adalah bahan baku, mesin, peralatan, komputer, bangunan dan uang. Dalam memproduksi output, faktor modal dan tenaga kerja bias dikombinasikan dalam berbagai model kombinasi. Sehingga, bisa dituliskan dalam rumus sebagai berikut:

Q = f (C.L)
Keterangan:
Q = Jumlah output yang dihasilkan
f = Fungsi
C = Capital (modal sebagai input)
L = Labour (tenaga kerja, sebagai input)

Rumus di atas menyatakan bahwa output (Q) merupakan fungsi dari modal (C) dan tenaga kerja (L). Ini berarti tinggi rendahnya output tergantung pada cara mengombinasikan modal dan tenaga kerja.


http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi#Teori_Klasik_dan_Neo_Klasik

3.2 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Aliran Teori Ekonomi Klasik

a. Adam Smith

Adam Smith adalah ahli ekonomi yang menulis buku “The Wealth of Nation” (kemakmuran suatu negara) yang sangat terkenal. Ia merupakan tokoh yang mengemukakan pentingnya sistem ekonomi liberal (bebas), yakni sistem ekonomi yang bebas dari campur tangan pemerintah yang diperkuat dengan semboyan “Laissez Faire, Laissez Passer”. Adam Smith percaya bahwa dengan menggunakan sistem ekonomi liberal (bebas), pertumbuhan ekonomi dapat dicapai secara maksimum. Pertumbuhan ekonomi bisa dicapai dengan melibatkan dua unsur, yaitu:

  1. Pertumbuhan penduduk.
  2. Pertumbuhan output total.

Selanjutnya, pertumbuhan output yang berupa barang dan jasa dipengaruhi oleh tiga komponen, yaitu sumber-sumber alam, tenaga kerja, jumlah persediaan barang.

Agar terjadi pertumbuhan output, sumber-sumber alam harus dikelola oleh tenaga kerja dengan menggunakan barang modal. Sumber-sumber alam sangat penting untuk menentukan pertumbuhan ekonomi, karena sumbersumber alam merupakan batas maksimum output jika sudah dimanfaatkan secara maksimum. Sumber-sumber alam mencapai batas maksimum apabila telah dikerjakan oleh tenaga kerja yang handal dengan menggunakan barang modal yang cukup.

meng

b. David Ricardo dan TR Malthus
Pemikiran David Ricardo dan TR Malthus tidak sama dengan Adam Smith. Mereka mengkritik Adam Smith, bila Adam Smith berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka David Ricardo berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk yang terlalu besar (hingga 2 kali lipat) bisa menyebabkan melimpahnya tenaga kerja.

Tenaga kerja yang melimpah menyebabkan upah yang diterima menurun, di mana upah tersebut hanya bisa untuk membiayai tingkat hidup minimum (subsistence level). Pada taraf ini, perekonomian mengalami stagnasi (kemandegan) yang disebut Stationary State.

TR Malthus sependapat dengan David Ricardo dan mengemukakan bahwa bahan makanan bertambah menurut deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya), sedangkan penduduk bertambah menurut deret ukur (1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya). Akibatnya, bahan makanan tidak cukup untuk menghidupi penduduk, sehingga masyarakat hidup pada tingkat subsistence dan perekonomian alami kemandegan.


http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi#Teori_Klasik_dan_Neo_Klasik

3.1 Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi, diantaranya:
a.       Metode Sederhana
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dalam menghitung pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi metode ini mempunyai kelembahan yaitu hanya bisa digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan tahunan (hanya satu tahun). Rumusnya adalah:
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5UubHX6xxeTKwlkQMDnQovTiM6QHvdYwqVGKhaSIZDjnZ06sM0cQVaxrrwUGGfu4g0bRm9BsipehavQpErEf5uIGsritqXEtLHYuvQu1Ie1o1Idv9YwM33_xQJPxwHr44fw-vN-AaJF0/s1600/cats.jpg

Sedangkan untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi pada periode yang lebih panjang (lebih dari satu tahun) harus menghitung tingkat pertumbuhan per tahun terlebih dahulu lalu kemudian dirata-ratakan dengan cara seperti berikut:

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoNPZy5D4xuL1OJZ4DrABX4gUOzy3JdfW2-AmZXmNaiHQjbrdkgypdAs8G__D3fj63_oBsxtZIrQWJZLA0MUnCOMApe9iyeiQ0cf65_ps5L7RFn9vBdbF8vOPyE94l0iKEO1iPtn2wIg4/s1600/cats1.jpg

b.      Metode End to End
Untuk mengatasi kelemahan pada metode sederhana, maka dikembangkanlah metode end to end. Dengan metode ini tingkat pertumbuhan ekonomi dihitung dengan rumus:

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1RvCCh6lYgXlhy9BrrWynTAgz6Dm_80NyQB6V3Jtd9S6g-iqr3wYOJp8qXgCGvQRARLgWIsdCfmecM3Ak33mFbytHWeI6NytDlwF1pCK6vmdoINJIjfyQYLUouqD_nsCmaLFG5y0HKe4/s1600/cats2.jpg

dimana :
n = Jumlah periode observasi

c.       Metode Regresi
Untuk memadukan segi efisiensi dengan upaya mengurangi kenaikan nilai PDB diantara awal dan akhir periode observasi, maka dikembangkanlah metode regresi. Dengan metode ini, tingkat pertumbuhan dihitung dengan membentuk model semi-log seperti berikut:

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkEKvwEVPmZ5wdhRfEJ7CtoyF7r9ZCht5U3s6dyixFa4d6QZ0iIrB21BvTLQhI6IGKVilF1gt_DB2qGdCcMl1m3951aAsSKP5SoZBIbbuX4cYOkanjLYs70xQQSubIdFHa_USAI4pQcSg/s1600/cats3.jpg


http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi

Monday, 5 May 2014

2.6 PSP (Pendapatan Siap Pakai)

Pendapatan Siap Pakai (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.


PSP = PI – Pajak Langsung

http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional

2.5 PNN (Pendapatan Nasional Neto)

Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.
PNN = PNB – (Penyusutan + Barang pengganti modal)
Dimana :

             PNN = Produk Nasional Netto
             PNB = Produk Nasional Bruto
             
Ø  Penyusutan atau Depresiasi adalah penurunan nilai dari suatu barang atau jasa.


http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional

2.4 PNB (Produk Nasional Bruto)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB adalah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut. GNP riil perkapita diperoleh dengan membagi GNP riil dengan jumlah penduduk. GNP riil perkapita mengukur jumlah rata-rata keseluruhan output yang diperoleh oleh setiap penduduk. Dengan demikian kenaikan GNP riil perkapita berarti kenaikan standar hidup masyarakat (standar hidup lebih tinggi).
            Tolak ukur yang biasa dipakai untuk mengukur keberhasilan perekonomian suatu negara diantaranya adalah pendapatan nasional, produk nasional, tingkat kesempatan kerja, tingkat harga dan posisi neraca pembayaran luar negeri. Pendapatan Nasional (National Income) adalah merupakan salah satu tolok ukur yang sangat penting dalam menganalisis dan mengatasi masalah-masalah ekonomi makro yang dihadapi masyarakat sesuatu negara.
 Sifat-sifat PNB adalah sebagai berikut:
1.      PNB adalah ukuran moneter
PNB tidak memperhitungkan perubahan yang terjadi pada nilai uang karena terjadinya perubahan harga-harga umum. Oleh sebab itu PNB pada tahun tertentu tidak dapat dibandingkan dengan PNB pada tahun lain, karena perubahan yang terjadi disamping menyangkut perubahan jumlah output juga harganya sehingga nilai uang yang digunakan tidak sama besarnya.
2.      PNB hanya memperhitungkan barang-barang dan jasa akhir saja
Barang dan jasa akhir adalah barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen dan langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Artinya barang dan jasa itu tidak lagi beredar dipasar untuk diperjual belikan. Barang yang dibeli oleh rumah tangga inividu maupun rumah tangga perusahaan tetapi tidak langsung digunakan sendiri. Untuk menghindari sesuatu produk dihitung lebih dari satu kali (double counting), dalam perhitungan PNB dipakai cara perhitungan lain yang dikenal dengan nama Cara Nilai Tambah.
Nilai tambah adalah nilai yang ditambahkan pada PNB oleh rumah tangga perusahaan dan terdiri dari penerimaan rumah tangga perusahaan itu dari penjualan barang dan jasanya dikurangi dengan pengeluaran rumah tangga perusahaan tersebut untuk membeli barang dan jasa perusahaan lain (barang antra). Dengan demikian jelaslah bahwa PNB dapat juga dinyatakan sebagai keseluruhan nilai tambah rumah tangga perusahaan yang beroperasi dalam masyarakat selama kurun waktu tertentu, biasanya dalam satu tahun.
1.     PRODUK NASIONAL BRUTO (GNP)  NOMINAL DAN RIIL
Bagi ahli makro ekonomi data terpenting ialah perhitungan produk nasional bruto (GNP-Gross National Product) yang menghubungkan pengeluaran egregat dengan produksi dan pendapatan dalam wujud yang cocok bagi analisis makro ekonomi. GNP di atas 3 trilyun dicapai pertama kali tahun 1982, mencapai nilai 3.059,3 milyar dolar. GNP dirumuskan sebagai nilai pasar dari keluaran barang-barang jadi dan jasa-jasa. Jadi yang dihasilkan suatu Negara selama suatu periode yang dihitung secara arbiter. Meskipun periode waktu yang biasa digunakan untuk menghitung GNP adalah tahun kalender, perkiraan GNP juga disiapkan oleh Departemen Perdagangan atas dasar kuartalan.
Bila kita amati definisi GNP lebih dekat, akan ditemukan sejumlah istilah pertama, yaitu nilai pasar (market value) yang menyatakan bahwa agregasi dari berbagai barang dan jasa ke dalam suatu totalitas diperoleh dengan menilai setiap barang dan jasa pada nilai pasarnya, kemudian uang ini dijumlahkan. Kedua, megukur nilai produksi baru yaitu keluasan yang dihasilkan selama periode perhitungan. Ketiga, GNP hanya mencakup barang-barang jadi dan jasa-jasa.
Pada tahun 1982 GNP meningkat menjadi 121,6 milyar dollar melebihi nilai 1981 yang bernilai 2.937,7 milyar dollar, sementara perekonomian berada dalam proses mencebur ke dalam depresi yang paling dalam sejak 1930. Namaun GNP tidak menggambarkan hal ini karena inflasi yang berkesinambungan, harga-harga meningkat sekalipun kuantitas menurun. Untuk mengendalikan dampak inflasi diperlukan tolak ukur lain terhadaap kegaiatan ekonomi agregat. Tolak ukur GNP riil, dengan menilai keluaran harga-harga “tahun dasar” yang dipilih secara arbiter. Hasilnya adalah ukuran tentang produksi agregat yang megneliminasi dampak inflasi dan menunjukkan apa yang terjadi dengan kegiatan perekonomian terlepas dari gerak harga-harga. GNP riil 1982, yang dinilai atas harga 1972, turun dari nilai tahun 1981 yaitu dari 1.502,6 milyar dollar menjadi 1.476,9 milyar dollar sehinnga mencatat penurunan tajam ke dalam resesi. Persaentase penciutan sebesar 1,7 persen yang dinyatakan sebagai tingkat pertumbuhan “riil”.
Bila GNP dinilai pada harga yang berlaku disebut GNP nominal sedangkan GNP yang dinilai atas dasar harga-harga suatu tahun dasar disebut GNP riil. Pembagi GNP nominal dengan GNP riil disebut implicit price deflator. Implicit price deflator adalah suatu ukuran menyeluruh dan penting mengenai inflasi yang jumlahnya sama dengan timbangan rata-rata dari semua harga yang baru dihasilkan dalam perekonomian.
2.     PERHITUNGAN GNP
Jika pendapatan faktor-faktor produksi luar negeri yang ada dalam perekonomian dinotasikan sebagai PFLN sedangkan pendapatan factor-faktor produksi perekonomian yang ada di dalam negeri dinotasikan sebagai PFDN, maka:
PNB = PDB – PFLN + PFDN
Selisih antara PFLN dengan PFDN adalah pendapatan factor produksi netto (PFPN) atau net factor income from abroad. Dengan demikian dapat dikatakan:
PNB = PDB + PFPN
Jika PFPN bernilai negative, maka pembayaran terhadap pendapatan faktor-faktor produksi luar negeri lebih besar daripada penerimaan atas balas jasa faktor produksi dosmestik yang digunakan oleh perekonomian luar negeri. Angka ini mengindikasikan bahwa nilai impor faktor produksi lebih besar daripada nilai ekspor faktor produksi. Umumnya PFPN Negara-negara berkembang seperti Indonesia bernilai negative, artinya nilai impor faktor produksi lebih besar daripada nilai ekspor faktor produksi karena di negara berkembang nilai PNB nya lebih kecil daripada nilai PDB nya.